Hanya Jokowi Yang Berani Stop Permainan Kotor Petral


Tidak Ada Petral, Oposisi Kejang-Kejang
Sebelum era Jokowi, banyak Mafia migas yang hidup nyaman. Namun di sisi lain rakyat menderita. Mimpi indah hanya kamuflase dari pemerintah saat itu. 

Pada kenyataannya, rakyat tidak merasakan apa-apa. Takada BBM murah, tak ada pembangunan infrastruktur, tak ada pemerataan ekonomi.
Ingatlah, saat itu PKS masih menikmati kenyamanan bersarang di ketiak penguasa (Demokrat). Masih merasakan empuknya kursi kekuasaan sambil bercengkrama dengan HTI agar bisa leluasa masuk di semua institusi lembaga pemerintahan.

Freeport masih nyaman tak terusik. Masih menikmati 99% Emas Papua. Sementara Indonesia hanya dapat sisa bagian 1%. Apa pantas? harta milik kita lalu cuman dapat 1 persen? Aneh, ya? Pemerintah saat itu pura2 tidak tahu atau tidak mau tahu.

Cendana dengan Petralnya masih berenang dollar hanya bermodalkan air ludah. “Empuk tenan ngibuli rakyat Indonesia” ~ kata Rizal khalid. Semuanya di berpesta pora dalam lindungan Gurita Cikeas.
Lalu ketika seorang lelaki kerempeng yang bernyali Singa yang bernama Jokowi, menghancur leburkan Singgasana mereka, siapa yang tidak geram? Siapa yang tidak marah ?

Dan cara gampang untuk memprovokasi orang2 yang malas berpikir adalah dengan mengadopsi cara penjajah dengan propaganda dan adu domba. Propaganda agama, PKI, Isu Sara Dll sambil memelihara ormas radikal dengan cara memberi makan UPETI agar selalu membuat RUSUH. Hanya untuk membuat stigma bahwa pemerintahan Jokowi tidak kondusif.

Mereka yang mengoroti uang rakyat dan kelompok yang ingin merongrong Pancasila-lah yang membuat rakyat menderita !

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.