Hidayat Nur Wahid : Sandi adalah Ulama


Sandiaga dikenal sebagai pengusaha yang masuk ke arena politik lewat Partai Gerindra. Selepas meninggalkan jabatan Wagub DKI, dia maju menjadi bakal cawapres dari capres Prabowo Subianto.

Dan kini Status religius Sandiaga Salahuddin Uno nampak semakin meningkat di mata politikus pendukungnya. Kini Sandiaga sudah disebut mencapai level ulama.

Dengan majunya Sandiaga mengakhiri tanda-tanya soal siapa ulama yang bakalan menjadi pendamping Prabowo di Pilpres 2019. Sempat digelar forum Ijtimak Ulama oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama untuk merumuskan siapa cawapres yang tepat mendampingi Prabowo.

Akhirnya ada dua nama ulama rekomendasi Ijtimak, yakni Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Salim Segaf Al Jufri, nama kedua merupakan ulama politikus PKS.

Ternyata, Sandiaga-lah yang dipilih Prabowo untuk menjadi cawapresnya, bukan dua nama ulama rekomendasi Ijtimak di atas. Meski begitu, Presiden PKS Sohibul Iman menyatakan pasangan Prabowo-Sandi sebagai perwujudan nasionalis-Islam.

Dengan metamorfosis yang sangat cepat, sosok Sandi dinilainya juga sebagai santri, meskipun orang lain tak berkata demikian.

"Mungkin beliau (Sandiaga) dalam kaca mata kita selama ini tidak terkategori sebagai santri," kata Sohibul di deklarasi Prabowo-Sandi, di kediaman Prabowo, Jl Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (10/8/2018) beberapa waktu yang lalu.

Sejak saat itu, Sandi kemudian dikenal sebagai santri. Sandi bukan sembarang santri, namun dia adalah santri pos-Islamisme, begitulah gelar yang disematkan Sohibul ke Sandi.

"Saya kira beliau seseorang yang memang hidup di alam moderen, tetapi beliau mengalami proses spiritiualisasi dan Islamisasi, sehingga saya bisa mengatakan saudara Sandi adalah merupakan sosok santri di era pos-Islamisme. Dia benar-benar menjadi contoh pemimpin muslim yang kompatibel dengan perkembangan zaman," tutur Sohibul.

Namun ada saja yang meragukan status kesantrian Sandi. Politikus PPP pendukung PDIP misalnya, mereka menilai Sandi dipaksa menjadi santri meski sama sekali bukan santri, atau juga menilai Sandi adalah santri posmo.

Ferdinand Hutahaean membela. Ferdinand menyatakan Sandiaga tentu santri juga. Sandiaga pernah menempuh pendidikan pesantren, meski bukan di pondok pesantren selama bertahun-tahun.

"Santri juga, kan ada pesantren kilat," kata Ferdinand saat acara Mata Najwa, disiarkan langsung Trans7, Rabu (15/8/2018) lalu.

Kini GNPF Ulama telah menggelar Ijtimak Ulama II. Hasilnya, Ijtimak mendukung Prabowo-Sandi. GNPF memahami bahwa Prabowo tak memilih ulama menjadi cawapresnya untuk menghindari perpecahan umat. PKS tak sepakat bila dikatakan pilihan cawapres dari ulama atau bukan bisa memecah umat.

Lewat respons PKS inilah, Sandi naik statusnya yang semula dari "santri" menjadi "ulama". Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid adalah politikus yang menyebut Sandi sebagai ulama.

Hidayat juga menjelaskan pengertian ulama. Dalam Alquran, istilah ulama disebutkan dalam Surah Asy-Syura dan Surah Fatir.

"Kedua-duanya justru ulama itu tidak terkait dengan keahlian ilmu agama Islam. Satu tentang ilmu sejarah, yaitu dalam Surah Asy-Syura dan Surah Fatir itu justru science, scientist," kata Hidayat.

Dengan mengacu pada dua surat itu, menurut Hidayat, bakal cawapres pendamping Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, juga seorang ulama. Keulamaan itu ditunjukkan Sandiaga dalam perilakunya.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.