Sebut Sandiaga Ulama, PKS Menghina Ulama Sebenarnya.


Seorang ulama, akan didatangi oleh masyarakat dan ditanyai berbagai macam persoalan. Tidak hanya persoalan fikih atau permasalahan agama, tapi juga soal masa tanam, masa panen, urusan ternak, tanya tanggal menikah, bahkan sampai perihal nama anak. Karena dalam ulama dianggap menguasai seluruh isi Al Quran yang diyakini sumber dari segala sumber ilmu oleh umat Islam. Dan menguasai kitab-kitab lain tentunya.

Hal ini sebenarnya sejalan dengan pemikiran Quraish Shihab dalam bukunya Ulama Pewaris Nabi mengenai keberadaan diksi ‘ulama dalam Al-Quran yang disebut secara eksplisit dua kali. Yang pertama menyebut bahwa ulama disebut karena pemahamannya akan ayat-ayat Allah atau punya ilmu bersifat qur’aniyah, di sisi lain juga punya kemampuan keilmuan bersifat kauniyah alias mampu membaca fenomena alam.

Berbeda dengan ‘ulama yang di kebudayaan Arab untuk menyebut seorang yang berilmu di berbagai bidang, di Indonesia penyebutan ulama disematkan hanya untuk orang yang berilmu pada satu spektrum saja, yakni agama.

Lalu jika ada yang tanya, memang salahnya Hidayat Nur Wahid nyebut Sandiaga sebagai ulama itu apa? Ya karena beliau tidak pakai kata ‘ulama tapi malah pakai kata ulama.

HNW menempatkan Sandiaga sebagai ahli agama, disejajarkan dengan kyai-kyai dan ulama tradisional lulusan pesantren atau perguruan tinggi fakultas keagamaan. Seolah-olah Sandiaga adalah orang yang ahli dan menjadi sumber ilmu bagi orang-orang yang ingin belajar agama.

Bagi sebagian orang pernyataan HNW dan PKS ini tentu seolah menghina Ulama-ulama yang sebenarnya. Pelabelan Ulama bagi Sandiaga oleh PKS membuat heboh. Tapi bagi saya tidak terlalu heran, sebab golongan mereka juga pernah menyematkan gelar "GUS" bagi Tommy Soeharto dan gelar "KYAI" bagi Setya Novanto.

Demi mencapai tujuan politik kekuasaan, segala cara mereka halalkan.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.