Ketika Penculik Dan Pembunuh Bernafsu Menguasai Negara


"Kenapa Prabowo dan Tommy Soeharto beserta Partai pendukung Prabowo-sandiaga tidak pernah mau mengadakan acara nonton bareng Peristiwa 1998? Karena saat itu rezim soeharto tumbang dan Prabowo terlibat dalam penculikan dan penghilangan aktivis.,"

Kutipan di atas adalah cuitan dari Teddy Gusnaidi, Dewan Pakar PKPI, di akun Twitternya.

Meski Gerindra berusaha keras membantah, namun sejarah tidak bisa ditutupi. Fakta nya sudah dibungkus dengan keputusan pengadilan militer dengan pemecatan bahwa Prabowo Subianto yang memerintahkan. Mungkin saja ada penyesalan. Tetapi sejarah tersebut tidak mungkin dihapus. Generasi millenial akan mudah mencari jejak digitalnya.

Atas peristiwa penculikan itu, TNI membentuk Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai Kepala Staf Angkatan Darat saat itu, Jenderal (Purn) Subagyo HS.

Hasil penyelidikan DKP, Prabowo dinyatakan bersalah lantaran tidak menaati perintah komando. Prabowo pun diberhentikan dari keprajuritan atas kasus ini.

Kemudian terkait Pilpres 2019, Prabowo memperoleh dukungan dari keluarga Cendana melalui parta Berkarya yang dimiliki Tommy Soeharto. Terkait Tommy Soeharto sendiri, dia adalah putra bungsu Soeharto dengan nama resmi, Hutomo Mandala Putra.

Tommy terjerat kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita pada tahun 2001.Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita adalah Hakim yang menangani Tommy dalam kasus Ruislag.

Saat insiden tersebut, Tommy Soeharto dikabarkan kabur dan menjadi buronan.
Hingga pada akhirnya, ia berhasil diringkus oleh pihak kepolisian Polda Metro Jaya pada November 2001. Tommy lantas divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kini Penculik dan Pembunuh tersebut berkolaborasi untuk menguasai negara Indonesia.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.