Otak Prabowo Ugal-Ugalan


Capres Prabowo Subianto menyebut negara ini dikelola secara ugal-ugalan oleh pemerintah, sehingga mimpi Indonesia untuk Berjaya belum bisa terwujud.

Menurut Prabowo dalam empat tahun ke belakang, sebuah keputusan dapat dengan mudah dibatalkan atau direvisi tanpa memikirkan dampak yang dirasakan masyarakat di lapisan bawah. Hukum juga disebut telah menjadi alat tawar menawar politik dan mengabaikan keadilan.

Melalui akun resmi Facebooknya Prabowo menuliskan bahwa Pemerintah ugal-ugalan dalam menggelola negara.

"Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara," tutur Prabowo di Facebook resminya, Selasa (16/10).

Prabowo membandingkan pemerintahan sekarang dengan era Soekarno, Soeharto dan era Susilo Bambang Yudoyono (SBY), Sukarno mengobarkan semangat revolusi tanpa henti hingga berhasil melepaskan Indonesia dari penjajahan bangsa asing yang membelenggu selama ratusan tahun.

Lalu di era Orde Baru, Soeharto melanjutkan upaya mengembalikan kejayaan Indonesia lagi, dan Soeharto mengedepankan aspek pembangunan nasional, hingga stabilitas ekonomi terjaga, pertumbuhan ekonomi pun tergolong tinggi. Soeharto bahkan berhasil mewujudkan swasembada pangan.

Kemudian di era SBY menurut Prabowo,  SBY meninggalkan jejak perubahan dan membawa karakter kepemimpinan yang sama, yakni kepemimpinan yang kuat serta kepastian hukum. Hubungan antarlembaga negara pun terjalin harmonis.

Kemudian Prabowo lantas mengklaim bahwa slogan Make Indonesia Great Again bukan hal yang baru dilontarkannya beberapa hari terakhir. Bahkan, dia mengklaim telah memiliki gagasan tersebut jauh sebelum Donald Trump maju sebagai calon presiden Amerika Serikat.

Menanggapi pernyataan Prabowo itu, Kepala Staf Presiden Moeldoko menegaskan bahwa pemerintah tidak mengelola negara secara ugal-ugalan sebagaimana ditulis oleh Prabowo. Ia mengatakan justru Presiden Jokowi sangat tegas dalam berbagai situasi.

"Kelihatannya dari gayanya, tapi keputusan presiden sangat tegas. Jangan dilihat gesturnya. Apa yang keluar dari keputusan itu harus dijalani," ujar Moeldoko.
Tak hanya itu, menanggapi pernyataan Prabowo yang ngawur itu, Partai Hanura menilai banyak orang berpikir dua kali untuk memilih Prabowo pada pilpres.

"Kalau seorang capres saja sudah tidak bisa menghargai bangsa dan negaranya, apakah pantas dipilih oleh rakyat Indonesia? Pasti deh banyak yang mikir dua kali untuk memilih dia," kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada wartawan, Selasa (16/10/2018).

Menurutnya Prabowo sulit menerima perbedaan, dia juga menyebut Prabowo sedang kebingungan membuat program. Karena itu, Prabowo meniru slogan kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat 'Make Indonesia Great Again', bukan programnya sendiri seperti yang ia katakan tadi.

"Apalagi dia sedang bingung membuat program yang akan ditawarkan kepada rakyat Indonesia, sehingga yang bisa dia lalukan hanya meniru Trump, yakni 'Make America Great Again'," ujar Inas.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.