Capres Dongo


KEKONYOLAN CAPRES SANDIAGA UNO TAK CERMINKAN SOSOK PEMIMPIN

Dari pernyataan yang sering salah, dan cara bicara yang blepotan sehingga menyulitkan kita menelaah arti dari pernyataannya tersebut, Sandiaga Uno calon wakil presiden yang katanaya besutan para ulama itu dirasa merugikan dirinya sendiri dan partai pendukungnya.

Bukan hanya dalam hal perkataan, dalam tingkah laku pun sering melakukan hal-hal konyol yang tak mencerminkan tentang calon pemimpin yang baik.

Soal perkataan, tentu kita ingat video yang beredar terkait “binarti”, pernyataan yang sulit dicerna meskipun bukan bahasa alien. Pernyataan-pernyataan Sandiaga Uno terkait tempe rambut petai dan lain-lain, membuat kita semua terbahak-bahak.

Di tengah-tengah kekonyolan yang sering ia lakukan, pernahkan kita berfikir kira-kira apa yang diinginkan oleh Sandi dengan tingkah polahnya?

Terlalu over membuat merendahakan dirinya sendiri, orang menganggap Sandiaga Uno adalah orang yang “bodoh” dengan segala kekonyolannya, mungkin kita tidak akan dapat menggali kemungkinan strategi maupun dampak dari tingkah polah Sandi yang bisa dikatakan sebagai orang pendatang baru dalam dunia politik itu.

Sandiaga Uno tentu adalah orang yang pintar, ia sekolah di sekolah Kristen dan juga jebolan Amerika saja bisa diberi label santri dan bahkan ulama. Kalau tidak pintar, mungkin dia tidak bisa menjadi pengusaha muda yang sukses.

Kalau dia tidak pintar, gak mungkin namanya ada dalam Panama Papers daftar orang yang dianggap sebagai “pengemplang pajak”. Kalau Sandiaga Uno tidak pintar, ia pasti tidak ikut pengakuan dosa terkait pajak yaitu tax amnesty, itu menandakan masih ada “uang tersembunyi” yang luput dari pegawasan pegawai pajak.

Sandi yang merupakan pendatang baru dalam politik, tiba-tiba ia sudah bisa maju dan menang saat di pilkada DKI Jakarta. Atau kita lihat, ketua umum partai yang terlebih dahulu berpolitik pun kalah rebutan posisi cawapres dengan Sandiaga Uno di pilpres mendatang.

Orang yang paling berbahaya adalah orang pintar yang dianggap bodoh. Orang pintar yang dianggap bodoh justru memiliki banyak keuntungan, diantaranya apa yang dilakukannya gak akan pernah tercium oleh lawan politiknya.

Jadi mari kita sedikit menggelitik pikiran kita untuk mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang diharapkan Sandiaga Uno, orang pintar yang menjadi tertawaan oleh para netizen.

Dalam politik, ada politikus yang tak berkualitas dan ada juga yang tidak. Penggemarnya pun sama, ada yang berkualitas dan ada yang tidak. Oleh sebab itu, benar kata orang-orang terkait pemimpin itu adalah cerminan dari rakyatnya.

Rakyat yang cerdas akan menghasilkan pemimpin yang cerdas dan rakyat yang bodoh akan menghasilkan pemimpin yang bodoh dalam hal ini tidak bisa kerja, mungkin kita sedikit mendapatkan salah satu gambaran yang sedang disasar oleh kekonyolan Sandiaga Uno.

Paling tidak kemungkinan seperti hal di atas bisa saja terjadi. Negara kita justru akan dipimpin oleh orang yang sering dianggap konyol oleh orang-orang yang waras dan dewasa dalam berfikir, tetapi si konyol justru menghipnotis para penonton dengan segala bentuk tingkah polahnya dan menjadikannya pujaan.

Sandiaga Uno tidak ada apa-apanya dalam mengurusi negara/daerah. Tetapi soal urusan promosi, Sandiaga lebih kenceng dengan rela mengeluarkan dana berkardus-kardus untuk mempopulerkan dirinya dikancah nasional dengan segala tingkah polahnya.

Namun taktik ini sudah terbaca oleh kubu Jokowi yang memiliki sumber daya secara sistem dan juga manusia. Jika Jokowi priode pertama berfokus pada infrastruktur, maka priode selanjutnya akan berfokus pada sumber daya manusianya melalui revolusi mental.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.