Daftar yang Berwarna Merah



PROGRAM UNGGULAN PRABOSAN YANG SPEKTAKULER

Pada dasarnya masyarakat tidak menyukai hoaks. Hoaks akan merupakan bentuk pembohongan publik yang brutal, pembodohan masyarakat, yang berdampak merendahkan peradaban politik suatu bangsa.

Prabowo Subianto beberapa waktu yang lalu menyinggung soal angka kemiskinan di Indonesia. Dia mengatakan bahwa 99% rakyat Indonesia hidup pas-pasan, dalam artian masyarakat Indonesia 99% miskin.

Jika data orang miskin di Indonesia 99% artinya di Indonesia hanya ada oang yang mampu hanya 1% saja.. Bagaimana menurut anda..? validkah data yang dipunyai Prabowo..? atau Cuma ngarang saja..!!

Tak berbeda jauh dengan wakilnya, Sandiaga Uno juga kembali membuat kegaduhan yang membuat masyarakat bingung.

Beberapa waktu yang lalu Calon wakil presiden Sandiaga Uno membandingkan harga nasi ayam di Singapura yang dinilainya jauh lebih murah daripada di Jakarta. Dirinya menyebut harga nasi ayam di Singapura itu Rp 35 ribu sedangkan di Jakarta Rp 50 ribu.

Informasi tersebut didapatkan Sandiaga Uno dari tim ekonomi Prabowo-Sandi yang telah mengumpulkan data dari sejumlah sumber. Pernyataan ini kemudian merujuk pada bahan pangan di Indonesia yang jauh lebih mahal.

Informasi yang sangat menyesatkan ini sungguh membuat masyarakat muak, masyarakat kita sudah cerdas sob, tapi mengapa kubu mereka masih saja memcoba pengaruhi masyarakat dengan data  yang salah.

Belum lagi harus mengingat kasus hoax Ratna Sarumpaet yang membuat kubu Prabowo-Sandi sendiri dibenci masyarakat. Kubu Prabowo-Sandi mendapat dampak langsung dari hoaks Ratna Sarumpaet, karena Ratna termasuk anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Efek dari kasus hoaks Ratna Sarumpaet berimbas kepada sentimen negatif bagi pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Dari data LSI yang diperoleh, sebanyak 17,9 persen responden memilih lebih tidak mendukung Prabowo-Sandi, sementara 11,6 persen lebih mendukung, 49,8 persen mengtakan sama saja, dan 20,7 persen menjawab tidak tahu.

Sebesar 75 persen publik menyatakan kekhawatiran mereka terkait hoaks secara umum, dan untuk kasus Ratna Sarumpaet, terbukti sebanyak 89,5 persen responden menyatakan tidak suka.

Masyarakat juga masih trauma dengan kasus penculikan pada 1998 lalu, munculnya stikma negative pada Prabowo sangat kental dengan adanya kasus penculikan para aktifis kala itu, Prabowo dianggap sebagai dalang dari semua tindakan penculikan dan hilangnya para aktifis yang hingga kini tidak diketahaui keberadaannya.

Selama periode itu, tercatat 23 orang telah hilang, satu diantaranya telah ditemukan dan dalam keadaan tak bernyawa, 9 diantaranya dilepaskan oleh penculiknya dan 13 diantaranya masih hilang hingga kini. Kasus ini masih menjadi bayang-bayang semu yang selalu menghantui masyarakat Indonesia.

Masyarakat juga menyebut bahwa Prabowo lakukan pelanggaran HAM. Keluarga korban pelanggaran HAM kerusuhan 1997-1998 meminta mantan komandan Jenderal Kopassus, Prabowo Subianto tidak melupakan tanggung jawabnya atas peristiwa kerusuhan besar serta penculikan aktivis mahasiswa yang hingga kini belum diusut tuntas.

Prabowo tidak mungkin hanya bertanggung jawab atas sembilan aktivis yang hilang saat itu, karena sembilan aktivis saat itu, yang kini sudah dikembalikan Prabowo, dan 13 aktivis lainnya yang masih hilang, merupakan satu kelompok atau kesatuan

Seluruh aktivis tersebut diduga diculik tim Mawar yang dipimpin Prabowo saat itu. Selain itu, ujar Paiaan, dalam penyelidikan tim Pro Justicia Komnas HAM, disebutkan juga mengenai indikasi kuat keterlibatan Prabowo dalam peristiwa penculikan aktivis pada 1997-1998.

Sebagai Danjen Kopassus saat itu, Prabowo merupakan petinggi militer yang memiliki tanggung jawab kontrol komando kepada anak buahnya. Selain itu Prabowo juga dianggap sebagai dalang dari kerusuhan 98’.

Dalam buku Detik-detik yang Menentukan karya Habibie, diceritakan bahwa Prabowo sempat meminta bertemu Habibie, yang ketika itu menjadi presiden RI setelah Soeharto mundur.

Pertemuan akhirnya dilakukan pada 22 Mei 1998 di Istana Negara. Dalam pertemuan itu, Habibie akhirnya memecat Prabowo dari posisinya sebagai Pangkostrad. Prabowo dikabarkan sempat tidak menerima keputusan tersebut. Kala itu Prabowo akan lakukkan kudeta namun digagalkan.

Kampanye hitam terkait suku, agama, ras (SARA) dan politik identitas diperkirakan akan mewarnai Pilpres 2019, karena dianggap ampuh untuk mengeksploitasi dan mempengaruhi sensitifitas perilaku pemilih, kata peneliti.

Komitmen anti kampanye hitam yang ditunjukkan elit politik kubu Prabowo, tidak bisa menggambarkan sepenuhnya kerja mesin politik di tingkat bawah.

Karena secara elit mereka mengatakan tidak akan menggunakannya (isu SARA dan politik identitas), tetapi opini elit itu berbeda dengan opini kalangan akar rumput, terutama mereka yang berada di mesin politik yang berada di bawah.

Walaupun kubu Prabowo-Sandi sudah 'membentengi' dari serangan isu SARA dan politik identitas dengan menjadikan figur ulama untuk wakilnya, isu SARA dan politik identitas tidak otomatis hilang.

Karena bagi mereka yang berada di wilayah dengan level edukasi yang relatif rendah, atau mereka dengan tingkat keagamaan yang taat, isu itu akan sangat efektif digunakan. Jadi hati-hati dalam memilih sosok pemimpin, salah memilih pemimpin akan membuat negara kita menjadi terpuruk.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.