Hati-Hati Isu Bangkitnya HTI Di Jatim


Pada tahun 1948 Tandhimul Jihad ikut berperang melawan Israel (yang belum menjadi negara). Setelah perang yang dimenangkan oleh Israel, Tandhimul Jihad kembali ke Mesir (tempat lahirnya Ikhwanul Muslimin). Di dalam kelompok Tandhimul Jihad itu ada seorang yang bernama Taqiuddin Alnabani. Dan Taqiuddin Alnabani ini adalah pendiri Hizbut Tahrir.
Ikhwanul Muslimin (IM) didirikan oleh Hasan Al Banna. IM memiliki sebuah lembaga/institusi rahasia yang bernama Tandhimul Jihad dimana kadernya dilatih dengan cara militer dan didoktrin untuk setia kepada Mursyid.

Dan faktanya sekarang, Ikhwanul Muslimin sudah dijadikan sebagai kelompok teroris di Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain. Jika pendiri Hizbut Tahrir adalah bagian dari kelompok teroris Ikhwanul Muslimin (IM), tak heran jika Hizbut Tahrir juga berkelakuan seperti teroris yang ingin merebut kekuasaan di sebuah negara yang sah berkedok menegakkan khilafah.

Selain suka ‘mengkafirkan’ orang di luar Hizbut Tahrir, Hizbut Tahrir juga ditengarai terlibat dalam beberapa kudeta di Timur Tengah. Menurut Musa Kaylani (2014), pada dekade tahun 1960-an, para aktivis Hizbut Tahrir terlibat dalam kudeta di Jordania dan di Tunisia pada dekade 1970-an. Pada 1974 juga para aktivis Hizbut Tahrir terlibat dalam kudeta di Mesir.

Jadi sudah jelas kan, jika Hizbut Tahrir itu adalah teroris yang haus kekuasaan berkedok Islam dengan dalih menegakkan khilafah. Indonesia adalah negara ke-21 di dunia yang melarang dan membubarkan kelompok teroris Hizbut Tahrir pada tahun 2017 lalu
Mari berfikir secara logika,  jika Indonesia adalah negara pertama yang melarang HTI, mungkin fitnah itu akan mudah diterima. Tetapi faktanya, puluhan tahun yang lalu, Hizbut Tahrir sudah dilarang di negara lain sebelum Indonesia.

Selain Jawa Barat, Jawa timur juga menjadi target sebagai salah satu daerah di Indonesia yang akan menjadi lumbung suara bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto- Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Jawa Timur juga menjadi pertaruhan suara untuk Prabowo-Sandiaga. Mengingat suara di Jatim yang kini terbelah dengan suara yang beralih mendukung petahana, tak ada cara lain untuk merauknya yaitu dengan membenturkan berbagai isu diantaranya adalah mengadu domba umat Islam dan Banser dengan Oramas Islam dan HTI.

Progam dan strategi khusus juga telah di siapkan, salah satunya dengan menggunakan isu agama yang di bentrokkan. Banyaknya jumlah pemilih di Pulau Jawa ini, membuat Tim Prabosan memutar otak untuk merebutnya, mereka mulai melakukan berbagai manuver yang menghalalkan berbagai cara.

Mayoritas masyarakat Jatim yang masih juga tradisional, dan lebih mengedepankan isu-isu nonsubstansi, membuat kepopuleran masih unggul dibandingkan kompetensi dan konsistensi program yang diusung oleh pasangan kandidat Capres dan Cawapres.

Karakteristik ini yang membuat Pasangan Prabosan beradu cepat dengan rivalnya. Cara cepat untuk merauk suara adalah dengan menjatuhkan lawan dengan mengadu domba. Mengingat besarnya masyarakat yang religious, yang di anggap mudah diprovokasi.

Perlu di ingat, NKRI adalah harga mati, jangan mau diprovokasi dengan embel-embel bela kalimat Tauhid. Karena sejatinya Islam itu adalah cinta damai, dan damai itu indah.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.