Menolak Lupa Kasus Penembakan & Penganiayaan Oleh Novel Baswedan


Pemuda Independen (MPI) lakukan aksi unjuk rasa di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi KPK pusat terkait kasus penembakan dan penganiyaan yang dilakukan Novel Baswedan kepada beberapa terduga pencuri sarang burung walet saat masih menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu di 2014 lalu.

Masa aksi menuntut Novel diadili dengan kadar hukum atas kasus yang menurut mereka sangat tidak manusiawi tersebut.

Rahmat Mony sebagai coordinator aksi menyatakan gelaran unjuk rasa dilakukan bukan untuk mengkriminalisasi atau menyudutkan posisi novel tanpa alasan apapun. Unjuk rasa dilakukan semata-mata untuk menuntut keadilan yang setara bagi seluruh rakyat.

Apalagi menurutnya, tanpa ada rasionalisasi hukum yang jelas kasus novel sudah dihentikan di tingkat kejaksaan.

“Apa kabar kasus penembakan pencari sarang burung wallet ? kami membuka kembali kasus penganiyaan dan penembakan yang dilakukan Novel Baswedan bukan tujuan mengkriminalisasi tanpa alasan yang jelas, melainkan sebab kami menilai keadilan hukum menjadi timpang sebab tanpa ada rasionalisasi hukum yang jelas kasus novel diberhentikan di kejaksaan, ada apa ? Apa sebab dia oknum KPK lantas diistemawakan, sedangkan rakyat biasa yang dianiaya dibiarkan menderita tanpa keadilan dan keberpihakan hukum ?, Ucap Rahmat dalam orasinya, Kamis (01/11) kala itu.

Tak tahu apa sebabnya kasus Novel sudah dihentikan ditingkat kejaksaan. Dalam Surat Ketetapan Pengehentian Penuntutan (SKPP) Nomor B 03/N.7.10/Eo.1/02/2016 yang ditandatangani Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu dengan alasan tidak ada bukti.

Padahal masih sangat segar diingatan nama Irwan Siregar dan beberapa terduga bahkan ada juga terduga yang salah tangkap. Kata dia Irwan adalah salah satu terduga pencurian sarang burung walet di Bengkulu yang dianiaya anggota reserse di bawah kepemimpinan Kasat Reskrim Polres Bengkulu di 2014 lalu yang saat itu dijabat oleh Novel Baswedan.

Menurutnya, dalam kesaksian Irwan dia memang mengakui mencuri sarang burung walet. Namun perlakuan penyidik dalam menegakan keadilan terhadap kasusnya sangat tidak manusiawi. Pasca dirinya dan beberapa terduga lain ditangkap kemudian digelandang ke mobil.

Diinjak-injak dan Sampai di Polres mereka dicampakkan di belakang dan disuruh buka baju pakai celana dalam saja. Kemudian dikumpulkan dan dipukuli lagi, digilas pakai motor bahkan disetrum kemaluan mereka.

“Apa hubungan maling sama menyetrum kemaluan? Ini merupakan  kebiadaban Novel Baswedan. Seperti Iblis, biadab, lebih-lebih dari PKI. Tak berhenti sampai disitu, para terduga pencuri sarang burung walet bahkan ada terduga yang juga salah tangkap lidahnya disetrum dan disundut rokok lalu dibawa ke Pantai Panjang. Novel sudah menunggu di sana untuk mengeksekusi penembakan, kemudian para terduga 6 orang dieksekusi satu persatu,” ujarnya
Aksi unjuk rasa dilakukan untuk Membuka kembali perkara itu dengan harapan agar Novel diadili atas kasus yang tidak manusiawi tersebut. Kasus yang belasan tahun sudah didiamkan dan diabaikan tanpa ada upaya serius dari lembaga hukum untuk menyelesaikanya.

Kemudian soal tragedi penyiraman air keras yang menimpa Novel. menurutnya, Jangan jadikan peritiwa itu sebagai alasan membalik keadaan atau meracau keadilan hukum. Ini dua hal yang berbeda. Jangan dijadikan materi sandiwara.

Novel berhak mendapatkan keadilan sebagai korban penyiraman air keras disaat yang sama dia juga perlu diadili untuk kasus penganiayaan dan penembakan terduga pencuri sarang burung walet.

“Jika saat ini Novel sebagai korban penyiraman air keras tengah menuntut keadilan, lalu bagaimana  dengan orang-orang yang menjadi korban kejahatan penembakan dan penganiayaan yang dilakukan oleh novel di 2004 lalu itu ? Stop sandiwara Novel Baswedan,” tandasnya.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.