OPERASI JAVA CHAOS


DALANG DIBALIK OPERASI JAVA CHAOS

Tak banyak yang tahu tentang The Messina Group, diketahui bahwa perusahaan ini salah satunya bergerak di bidang konsultan, di Amerika, The Messina Group dipercaya untuk membantu memengankan Obama pada pemilihan presiden sebelum Donald Trump.

Karena kehebatan The Messina Group ini dalam manufer politiknya, Tim Prabowo-Sandi akhirnya mencoba mengguanakan jasa The Messina Group ini, dengan tujuan untuk memenangkan pilpres 2019 nanti, dengan operasi ‘java chaos’

Kurangnya kepercayaan masyarakat dan minimnya suara dan dukungan kepada Prabowo-Sandi mendorang timnya untuk merekrut tim konsultan dari Amerika ini, dan untuk mendulang suara banyak dengan cara  yang singkat tak ada cara lain selain menggunakan cara yang licik.

Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi akan memainkan operasi ‘bendera hitam’ yang dikenal dengan bendera yang bertuliskan kaliamat Tauhid yang digunakan HTI dan ISIS dalam semua aksinya

Dukungan Prabowo-Sandi sangat kurang di wilayah Jawa Timur, mereka telah merencanakan siasat adu domba untuk wilayah Jawa Timur, karena banyaknya suara Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur. Tim BPN dengan sengaja mengadu domba NU di Jawa Timur agar timbul perpecahan antar NU.

Berbeda dengan daerah Jawa Tengah, mereka Bersama timnya menggunakan isu PKI untuk mempengarahi masyarakat dengan menyebarkan isu lahirnya kembali PKI hingga ke pesantren-pesantren, tak sedikit pula para ulama yang tergabung dengan oposisi mencoba meracuni masyarakat dengan berita bohong dan ujaran kebencian.

Jawa Barat juga tak luput dari serangan bendera hitam. Mereka dengan sengaja menggerakkan kembali Ormas Islam dan solidaritas HTI untuk membuat kekacauan dengan tujuan mengadu domba masyarakat. Tujuannya tak lain adalah untuk menggiring opini publik agar membenci pemerintah dan menarik dukungan untuk pasangan Prabowo-Sandi.

Tak hanya itu, dalam operasi Java Chaos ini didanai juga oleh pengusaha Televisi swasta di Indonesia demi kelancaran operasi dan target-targetnya. Tak perlu disebutkan nama stasiun televisi yang sering menayangkan berita yang selalu memojokkan pemerintah, anda sendiri akan tahu nanti.

Di Garut contohnya, polemik pembakaran bendera HTi pada hari santri Nasional kala itu, mereka sukses menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Coba saja anda bayangkan, hanya masalah bendera, mereka bisa di adu domba.

Dikabarkan aka nada lagi gerakan ‘bendera hitam’yang kembali akan mengguncang DKI, 211 pada 2 November 2019 akan mengadakan acara tauhid long march dari Istiqlal menuju ke Monas, hati-hati dengan provokator ini, Bendera Hitam akan kembali eksis dalam acara itu.

Acara akan kembali digelar pada 4 Desember 2018, dalam acara kumpul Bersama alumni 212 akan disusupi dengan kelompok HTI, mereka telah mempersiapkan semuanya, mereka akan terus membuat kekacauan di masyarakat dengan menggunakan tameng bendera Tauhid.

Mereka sengaja membuat kekacauan ini dengan tujuan memecah belah masyarakat, Ormas Islam dan 212. Masyarakat dibuat bingung dengan gejolak politik yang tak menentu, ini akan berdampak pada kepercayaan masyarakat kepada aparat dan pemerintah. Mereka menganggap aparat dan pemerintah tak bisa menjaga negara ini dari kekacauan.

Kemudian Prabowo-Sandi muncul sebagai penyelamat bangsa, seakan-akan menjadi juru penyelamat kekacauan bangsa yang sebenarnya ia bikin sendiri. Kenapa kalian saudara-saudaraku gak pernah sadar bahwa kita ini sedang diadu domba. Ingat, mereka akan menggunakan berbagai cara untuk menang. Coba anda bayangkan jika pasangan Prabowo-Sandi ini menang. Mau jadi apa negara ini..?!


1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.