Prabowo Capres Idiot


tensi politik terlihat semakin tinggi. Baik calon presiden dan wakil presiden serta petahana saling melempar pernyataan dan isu-isu yang menarik untuk di simak.
Dalam amatan pengamat komunikasi politik Ari Junaedi ada yang kurang pas serta keluar dari substansi persoalan yang mendasar yaitu SIKAP INDONESIA TERHADAP PERJUANGAN RAKYAT DAN BANGSA PALESTINA.

Pertanyaannya adalah, jika Prabowo mendukung rencana pemindahan Kedubes Australia ke Jerusalem, berarti Prabowo dianggap tidak paham sejarah dan patut dipertanyakan ke-Islamannya.
Seharusnya, tim komunikasi Prabowo-Sandi memberi briefing terlebih dahulu kepada Ketua Umum Gerindra itu sebelum berpidato. Agar statement-statement yang dikeluarkan Prabowo tidak menjadi bahan cemoohan, bully, serta menggerus elektabilitasnya.
Bukankah pasangan Prabowo-Sandi ini didukung PKS dan PAN yang mengklaim mendukung perjuangan Palestina?

Lalu apa fungsi Tim Kampanye Bersama jika perwakilan-perwakilan PKS, PAN, serta Demokrat tidak diajak merumuskan bareng-bareng strategi komunikasi Prabowo-Sandi..? kan aneh. Dan faktanya tidak sekali ini saja, Prabowo berbicara blunder.
Coba tengok, masalah tampang Boyolali, gaji guru disetarakan dengan nominal Rp20 juta, merendahkan profesi sopir ojek, Indonesia bubar di 2030, sebagian besar rakyat hidup pas-pasan dan lain sebagainya.

Ini adalah contoh dari pernyataan mantan menantu Soeharto itu yang selalu mencoreng dan mempermalukan diri sendiri.
Jika seorang kandidat dalam kontestasi politik tidak menghargai dan mengindahkan saran dan masukan tim komunikasinya, maka Prabowo-Sandi bersiap-siaplah kalah di pentas politik seperti pemilihan presiden di 2019 nanti.

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.