Prabowo Cocok Disebut Genderuwo


Politik genderuwo adalah berkampanye dengan menakut-nakuti, memanipulasi, atau membuat resah warga. Ya sesuai dengan istilah “genderuwo”, yaitu sebangsa demit yang mengganggu manusia.
Klaim tersebut, bisa jadi, merupakan salah satu alasan bagi Jokowi ketika menciptakan istilah “politik genderuwo”.
Mengingat pada Jumat, 19 Oktober 2018, di depan relawan emak-emak dan Prabowo-Sandi di Inna Heritage Hotel, Denpasar, Bali, Prabowo mengungkapkan sebuah “fakta” yang cukup mencengangkan.

Calon presiden nomor urut dua tersebut mengklaim bahwa saat ini, ada 99 persen masyarakat Indonesia hidup pas-pasan. Bahkan, beliau menambahkan dengan: “Bahkan sangat sulit (hidupnya).”
“Hasil ini adalah data, fakta yang diakui oleh Bank Dunia, oleh lembaga-lembaga internasional. Yang nikmati kekayaan Indonesia kurang dari 1 persen. Yang 99 persen mengalami hidup yang sangat pas-pasan, bahkan sangat sulit,” ungkap Prabowo.
Vivi Alatas, Lead Economist Bank Dunia dalam Seminar Indonesia Economic Outlook 2019 di Universitas Indonesia (12/11/2018) menyanggah pernyataan Prabowo. Lewat Vivi Alatas, Bank Dunia membantah klaim Prabowo soal kondisi ekonomi rakyat Indonesia.
“Bukan data kita, itu bukan perhitungan kita, saya nggak tahu itu dari siapa,” tegas Vivi Alatas.

Dalam kesempatan itu ia menjelaskan bahwa saat ini ada 9 persen masyakarat Indonesia yang masuk golongan miskin. Angka 9 persen itu cocok dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS) per maret 2018 (sebelum Prabowo mengklaim di bulan Oktober bahwa 99 persen rakyat Indonesia adalah “sobat misqueen”).
Jika dibandingkan dengan survei sebelumnya (September 2017), angka rakyat miskin bahkan menurun, yaitu mencapai 10,12 persen atau 26,58 juta orang. Angka 9 persen dari total penduduk artinya ada 25,95 juta orang. Artinya ada penurunan sebanyak 630 ribu orang.
Sesuai catatan Bank Dunia, sebanyak 45 persen rakyat Indonesia masuk ke dalam golongan sparing middle classyang tidak miskin dan tidak rentan. Sementara itu, 22 persen masuk golongan kelas menengah.

Jika Prabowo menyatakan bahwa 99 persen masyarakat Indonesia itu miskin dan dia bilang Bank Dunia punyai data, apa itu tidak menakut-nakuti masyarakat..? Jangan-jangan dapat dari buku fiksi lagi.
Ketika para pendukungnya ramai-ramai menolak diidentikkan dengan politik genderuwo, Prabowo justru memberi bahan bakar. Memberi data palsu dan justru menjerumuskan negarawan sekaligus politikus senior. Bagaimana menurut anda…?

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.