Prabowo Capres Diktator


Berawal dari rapat forum rembuk Dewan Penasehat 212 yang kala itu membahas rekomendasi pencalonan Prabowo Subianto, kejadian yang tak terduga terjadi, Prabowo dikabarkan mengamuk dan memukul meja.
Ketegangan mulai terjadi, bermula sesaat setelah Isoma berakhir tepat pukul 19.30 WIB. Seluruh Penasihat PA 212, kembali ke ruang rapat. Prabowo Subianto masuk ke ruang rapat, menyusul sejumlah Sekjen Partai seperti Ahmad Muzani (Gerindra), Eddy Soeparno (PAN), dan Afriansyah Ferry Noor (PBB).

Setelah Amien Rais mencabut skorsing rapat, Amien mempersilakan Prabowo Subianto untuk berbicara, memberikan penjelasan apa yang akan diperjuangkan bila didukung PA 212. Namun, reaksi Prabowo di luar dugaan.
Prabowo bicara kencang. Dengan nada suara tinggi, ia memprotes pihak-pihak yang meragukan kualitas keislamannya, ibadahnya, kemampuannya mengaji dan menjadi imam shalat. Yang sangat mengejutkan, ia berbicara sambil meninju keras meja rapat di depannya, sampai lima kali tinju, hingga para ulama termasuk Amien Rais kaget dan takut.

Saat itu juga, Forum rembuk Dewan Penasihat 212 itu pun tak lagi membahas rekomendasi pencalonan Prabowo Subianto. Pertemuan malam itu seakan-akan menjadi legitimasi bahwa PA 212 secara resmi merekomendasikan Prabowo Subianto. Tak ada lagi musyawarah, apalagi voting, karena para Ulama yang tergabung didalamnya merasa takut akan ancaman Prabowo.
Akhirnya, Ijtima Ulama1 berlangsung secara mulus dan mengajukan nama tunggal Prabowo sebagai capres. Sejumlah ustadz dan tokoh pergerakan Islam yang dianggap akan memperjuangkan HRS dan akan menolak pencalonan Prabowo tak memperoleh undangan sebagai peserta ijtima ulama.

Bukankah standar pemimpin yang harus dipenuhi dalam sebuah ijtimak ulama itu harus sesuai Alquran dan sunah. Diketahui standar pemimpin muslim dalam sebuah ijtima kala itu calonnya adalah Prabowo, Habib Rizieq, ada Zulkifli Hasan, ada Yusril Ihza, ada Tuan Guru Bajang.
Namun hanya nama Prabowo yang dianggap memenuhi standar Ijtima Ulama. Kabar yang beredar, para Ulama dipaksa memilih Prabowo karena takut dengan ancaman Prabowo. Dan alhasil Ijtima Ulama1 dengan terpaksa memilih Prabowo. Ini sepertinya bukan Ijtima Ulama, tapi Ijtima Politik.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.