Prabowo Pantas Disebut Genderuwo


Kampanye dengan menakut-nakuti, memanipulasi, atau membuat resah warga, adalah merupakan taktik kubu Prabowo-Sandi dalam berkampanye dan dalam bersosialisasi. Sesuai dengan istilah “genderuwo”, yakni sebangsa dedemit yang kerap mengganggu dan menakuti manusia.
Klaim tersebut, bisa jadi, merupakan salah satu alasan Jokowi ketika menciptakan istilah “politik genderuwo”. Mengingat pada Oktober 2018 lalu, tepatnya di depan relawan emak-emak di Bali, Prabowo mengungkapkan sebuah “fakta” yang cukup mencengangkan dan membuat ketakutan yang berlebihan.

Prabowo mengklaim bahwa saat ini, ada 99 persen masyarakat Indonesia hidup pas-pasan. Bahkan, dirinya menambahkan bahkan rakyat Inodonesia kini sangat sulit mencari makan, dengan kata lain susah hidupnya.
“Hasil ini adalah data, fakta yang diakui oleh Bank Dunia, oleh lembaga-lembaga internasional. Yang nikmati kekayaan Indonesia kurang dari 1 persen. Yang 99 persen mengalami hidup yang sangat pas-pasan, bahkan sangat sulit,” ungkap Prabowo.

Prabowo menyatakan bahwa 99 persen masyarakat Indonesia itu miskin, dan dia bilang Bank Dunia punyai data, data yang mana yang Prabowo lihat..? jangan-jangan data dari para koroconya yang kerjanya Cuma bikin HOAX.
 Apa itu tidak menakut-nakuti masyarakat namanya?  Jangan-jangan data Prabowo itu di dapat dari buku fiksi lagi.

Kan aneh, para pendukungnya ramai-ramai menolak diidentikkan dengan politik genderuwo, tapi Prabowo justru memberi bahan bakar dan menyulutnya kembali. Memberi data palsu dan justru menjerumuskan masyarakat dengan data fiktif.
Vivi Alatas, Lead Economist Bank Dunia dalam Seminar Indonesia Economic Outlook 2019 di Universitas Indonesia (12/11/2018) lalu kemudian menyanggah pernyataan Prabowo. Lewat Vivi Alatas, Bank Dunia membantah klaim Prabowo soal kondisi ekonomi rakyat Indonesia.

“Bukan data kita, itu bukan perhitungan kita, saya nggak tahu itu dari siapa,” tegas Vivi Alatas.
Dalam kesempatan itu ia menjelaskan bahwa saat ini, justru ada 9 persen masyakarat Indonesia yang masuk golongan miskin. Angka 9 persen itu cocok dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS) per maret 2018.

Jika dibandingkan dengan survei sebelumnya (September 2017), angka rakyat miskin bahkan menurun, yaitu mencapai 10,12 persen atau 26,58 juta orang. Angka 9 persen dari total penduduk artinya ada 25,95 juta orang. Artinya ada penurunan sebanyak 630 ribu orang.
Sesuai catatan Bank Dunia, sebanyak 45 persen rakyat Indonesia masuk ke dalam golongan sparing middle classyang tidak miskin dan tidak rentan. Sementara itu, 22 persen masuk golongan kelas menengah.

Jadi selama ini Prabowo menggunakan data yang palsu. Ia dengan sengaja membuat ketakutan di masyarakat agar terkesan pamerintah gagal dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Dan Prabowo memang pantas menyandang gelar Genderuwo.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.