Pidato Kebangsaan Prabowo Minim Gagasan


Arya Fernandes menilai, Pidato politik kebangsaan capres Prabowo Subianto yang disampaikan  belum punya efek besar untuk menggaet pemilih pemula ataupun mereka yang belum menentukan pilihan (swing voter).

"Kalau dari sisi efek, bagi pemilih yang swing atau pemilih yang belum menentukan pilihan, efek pidato itu tidak terlalu besar. Karena pertama, isu-isunya lebih banyak isu-isu yang digunakan pada pemilu sebelumnya. Soal utang, soal sumber daya, dan isu-isu lainnya," kata peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS itu.

Menurut Arya, pidato emosional Prabowo hanya membahas beragam isu secara umum. Padahal, menurutnya, jika Prabowo lebih fokus pada isu strategis, misalnya isu ekonomi, pidatonya akan lebih menarik.

Seharusnya sebagai penantang lebih baik menggunakan isu-isu strategis, fokus pada beberapa isu penting, sejak awal menggunakan isu ekonomi dan dalam pidato semalam isu ekonomi tidak begitu diperdalam. Jika oposisi bisa fokus pada isu-isu ekonomi, mungkin pidato itu lebih punya daya dongkrak yang kuat.

Publik saat ini membutuhkan program dan visi-misi yang jelas dan bukan hanya retorika. Pidato Prabowo dipandang masih terlalu banyak jargon dan belum mengedepankan solusi. Isu korupsi akan menjadi isu yang paling menarik bagi masyarakat. Hal itu diperkuat dengan banyaknya kepala daerah yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago juga mengatakan, pemaparan visi-misi Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang disampaikan dalam pidato kebangsaan pada Senin malam, 14 Januari 2019, masih bersifat umum dan normatif.

Menurut dia, janji-janji politik yang disampaikan Prabowo-Sandi secara umum masih bersifat ide-ide besar yang belum tentu bisa dioperasionalkan di lapangan. Sulit mencari perbedaan antara janji politik dan programnya. 

"Inilah yang menjadi alasan utama mengapa kita akan kesulitan mencari perbedaan mendasar dari program yang akan ditawarkan," ujar dia.

TGH Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) juga menanggapi pidato kebangsaan 'Indonesia Menang' Prabowo Subianto yang disampaikannya. Menurutnya, pemaparan visi-misi Prabowo dalam pidato sudah banyak yang dilaksanakan Presiden Joko Widodo.

Salah satu hal yang disoroti TGB adalah ketika Prabowo bicara soal pemberdayaan rakyat. Dilihat TGB, hal tersebut sudah dilakukan Jokowi dengan menegakkan kedaulatan ekonomi Indonesia.

"Ketika bicara tentang memberdayakan rakyat, membangun ekonomi rakyat, bagaimana menegakkan kedaulatan ekonomi Indonesia, saya pikir itu kerja, kerja yang Pak Jokowi juga sudah lakukan 4 tahun terakhir," paparnya.

Ambil alih saham Freeport, menurut TGB, juga merupakan salah satu pencapaian Jokowi. Menurutnya, Jokowi punya komitmen menarik kembali aset nasional ke tangan RI. Dia kemudian menyinggung Prabowo agar tak selalu beretorika. TGB menunggu capres nomor urut 02 itu menyampaikan hal yang lebih substantif ke masyarakat, bukan cuma retorika.

Tak hanya itu, banyak pengamat juga mengatakan bahwa pidato Prabowo yang menggebu-gebu itu hanya ilusi, bicara tanpa data yang akurat. Dirinya sempat menyinggung BUMN yang bangkrut, padahal BUMN kini semakin Berjaya di era Pemerintahan sekarang ini.

Fahri Hamzah dan Presiden PKS juga menyesalkan pidato Prabowo yang hanya buang-buang waktu dan suara, suara keras tapi tak ada isinya, membuat para pendukung oposisi banyak yang kecewa, mereka sendiri mengakui bahwa pidato Prabowo itu banyak yang beretorika.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.