Prabowo Dipecat Secara Hormat Untuk Hargai Peran Soeharto


Beredar Surat Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang berisi keputusan pemecatan mantan Pangkostrad Prabowo Subianto.

Diketahui, pemecatan itu terkait dengan dugaan penculikan aktivis yang diduga dilakukan Prabowo saat kerusuhan Mei 1998 beberapa tahun silam.

Dokumen yang ditetapkan pada 21 Agustus 1998 oleh DKP itu, juga diketuai Jenderal Subagyo HS, Wakil Ketua Jenderal Fachrul Razi, Sekretaris Letjen Djamari Chaniago. Selain itu, Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Letjen Yusuf Kartanegara, Letjen Agum Gumelar dan Letjen Ari J Kumaat.

Dalam dokumen itu juga dijelaskan kesalahan Prabowo saat menghadapi situasi kerusuhan pada 1998. Wiranto, Mantan Panglima ABRI pada saat itu, mengaku tak mau ambil pusing mengenai status Prabowo yang dipecat atau diberhentikan dengan tidak hormat. Karena kini sudah tidak ada urusan mengenai masalah itu.

"Saya tidak ingin terjebak kepada perdebatan istilah. Saya tidak ingin ngotot hanya dengan istilah pemberhentian hormat atau tidak hormat," kata Wiranto saat memberikan keterangannya di Posko Forum Komunikasi Pembela Kebenaran (FORUM KPK) Kamis (19/6/2014) tahun silam.

Wiranto pun tak memungkiri dalam kasus pemberhentian Prabowo sebagai Pangkostrad memang disebabkan adanya keterlibatan dalam kasus penculikan pada saat Prabowo menjabat sebagai Pangkostrad.

"Perbuatan tersebut telah dianggap melanggar Sampta Marga, sumpah prajurit, etika keprajuritan, serta beberapa pasal dalam KUHP," tambah Wiranto.

Dan sebenarnya hal tersebut tak perlu lagi diperdebatkan. Masyarakat yang akan menentukan pilihan, masyarakat sudah cerdas dan tahu mana yang pantas didukung dan mana yang tidak. Prabowo tak akan dipecat jika memang tidak melakukan hal yang tak berat.

Dirinya juga merencanakan kudeta terhadap Presiden Habibie yang kala itu menjabat, karena tak terima dirinya dipecat dari TNI.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.