Prabowo: Terorisme Lahir Karena Kebutuhan Ekonomi


Dalam debat perdana di Hotel Bidakara Jakarta Kamis lalu, Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto menduga-duga, terorisme sengaja dikirim dari negara lain. Ia juga tidak setuju bila masalah terorisme selalu dikaitkan dengan agama Islam.

Prabowo dengan lantang mengklaim mengetahui persoalan terorisme, karena pernah ditugaskan ke dalam tim anti teror saat dirinya belum dipecat dari militer. Saat itu ia bertugas bersama Luhut Binsar Pandjaitan.

“Saya bersama dengan Pak Luhut Panjaitan pasukan anti teror yang pertama, saya mengerti, karena pengalaman saya itu,” ungkap Prabowo.

Prabowo juga tidak setuju apabila selalu mengaitkan persoalan radikalisme dengan Islam. Selain itu, menurut Prabowo, terorisme erat kaitanya dengan masalah ketidakadilan dan keputusasaan seseorang, sehingga gampang dipengaruhi untuk melakukan radikalisme.

Untuk itu, Prabowo menginginkan Indonesia menjadi negara yang kuat dan maju secara ekonomi, Indonesia harus swasembada pangan agar tidak ada terorisme, sehingga tidak ada lagi individu yang terpapar radikalisme.

“Indonesia harus kuat, kita harus swasembada pangan, energi, air, lembaga pemerintahan kuat, kita harus bisa mendeteksi radikalisasi,” ungkap Ketua Umum Partai Gerindra.

Bukankah radikalisme itu karena doktrin yang kuat pada ajaran agama yang sesat..? lalu menjadikan Indonesia kuat dan swasembada pangan itu dengan apa? Apa solusi Prabowo untuk itu.?

Di sisi lain, cawapres Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan ada banyak masyarakat di Indonesia yang tidak bisa merasakan hidup enak sehingga terjerumus dalam terorisme.

Untuk itu, Sandiaga mengatakan, apabila ia dan Prabowo terpilih dalam Pilpres 2019 nanti, maka mereka memastikan untuk hadir di tengah-tengah masyarakat guna mengatasi persoalan ketimpangan itu.

Pertanyaannya adalah apakah Prabowo-Sandi berikan solusinya..? ia mengatakan akan hadir di tengah-tengah masyarakat, lalu untuk apa..?

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.