SONTOLOYO!!! Prabowo Setujui Korupsi, Asal Nggak Seberapa


debat perdana pilpres 2019 sudah usai, dan suasana dari kubu massa pendukung Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi pun terlihat dewasa mengikuti debat tanpa hinggar binggar yang mencolok.

Tidak punya beban masa lalu, dan tahu masalah serta tahu apa yang akan dilakukan, yaitu kerja, kerja dan kerja itulah yang menjadikan Jokowi terlihat santai dan percaya diri karena memang Jokowi telah melakukan/ menjalani apa yang mungkin bagi Prabowo-Sandi barulah sebatas wacana, sebatas visi-misi.

Ada yang sangat mengusik penulis dan sekaligus lucu ketika Prabowo Subianto menanyakan bagaimana Jokowi memastikan tidak ada pejabat negara yang memiliki konflik kepentingan terutama terkait impor beras dan gula.

"Pertama, akan saya mulai dari saya, Pak Prabowo, saya tidak memiliki beban masa lalu sehingga enak dalam bekerja, enak dalam memberi perintah," kata Jokowi dalam debat capres 2019 di Hotel Bidakara, Jaksel, Kamis (17/1/2019). Dikutip dari: detik.com

Sebuah jawaban bijak tak bercela yang mematikan, seperti sebuah sindiran halus tapi pedas. Bagi penulis yang menyaksikan debat perdana pilpres 2019 lewat televisi, sebenarnya merasa konyol dengan pertanyaan Prabowo. Kebayang nggak sih, kok bisa-bisanya Prabowo menanyakan itu kepada Jokowi? Memangnya Pakde Jokowi itu paranormal, atau peramal? Sehingga bisa tahu isi kepala dan hati orang lain? Terus kalau ada pejabat di era Jokowi misalnya korupsi lalu itu salah Jokowi? Koplak banget Pak Wowo ini, selucu ketika lagi joget waktu debat tadi!

Benar sekali jawaban Pakde Jokowi, jika kemudian mengatakan kalau memang ada bukti yah laporin saja, sederhana saja kok penyelesaiannya!

Heheheh….sederhana khan cara berpikir Pakde yang tidak macem-macem atau aneh-aneh, karena memang Pakde sendiri ataupun keluarganya tidak memiliki kepentingan apapun terhadap negeri ini selain mengabdi. Faktanya, anak-anak dan menantu Jokowi sendiri tidak ada tuh yang berbisnis dengan fasilitas Jokowi. Jadi siapapun itu pejabat pemerintah atau negara jika korupsi yah laporin saja, proses secara hukum! Salah dialah kalau melakukan kejahatan!

Justru sebenarnya di kubu Prabowo-Sandilah yang lekat dengan orang-orang ataupun dukungan dengan muatan kepentingan bisinis, sebut saja keluarga Cendana!

"Tadi bapak menyampaikan apakah tidak ada kepentingan pejabat yang kami angkat, kalau memang ada dan bapak punya bukti kuat, laporkan ke polisi, laporkan KPK, laporkan ke Kejaksaan. Tapi kalau pemerintah kami ingin semua sederhana, yang ingin kita bangun," sambung Jokowi.

Kondisi cerita ini berbeda banget dengan pertanyaan Pakde yang menanyakan kok Partai Gerindra mencalonkan eks napi koruptor sebagai caleg sih? Padahal Prabowo pernah teriak berisik mengatakan kejahatan korupsi di Indonesia sudah stadium 4? Meskipun sebenarnya nyaris se Indonesia sudah tahu teriakan Prabowo ini tong kosong nyaring bunyinya sih. Buktinya saja Prabowo yang berteriak, tetapi justru dirinyalah yang menyetujui serta menandatangani sebanyak 6 caleg dari eks napi koruptor!

"Kita tahu korupsi adalah kejahatan luar biasa, bahkan Pak Prabowo katakan sudah stadium 4 meskipun saya ndak setuju, saya ndak setuju," ujar Jokowi di debat capres 2019 di Hotel Bidakara, Jaksel, Kamis (17/1/2019).

"Tapi menurut ICW, partai yang Bapak pimpin paling banyak calonkan mantan napi korupsi. Calon itu yang tanda tangan Ketum, berarti Pak Prabowo tanda tangan," sebut Jokowi.

Nggak mau kalah, Prabowo membantah. Bantahan yang seperti membuka topengnya sendiri, yang tidak pernah tahu apa-apa makanya sering Prabocor dan Prabohong. Prabowo membantah Jokowi. Menurut Prabowo, data tersebut subjektif. He..he…., subjektif bagaimana Pak Wowo?

"Mungkin ICW, saya sendiri belum dapat itu laporan itu dan benar-benar itu sangat subjektif. Saya tidak setuju itu, saya seleksi caleg tersebut. Kalau ada bukti, laporkan ke kami," jawab Prabowo. Dikutip dari: detik.com

Waduh, bahaya banget ini. Bagaimana mungkin seorang ketua umum partai main seenaknya saja tandatangan dan meloloskan 6 mantan koruptor sebagai wakil rakyat tanpa mengenal atau mengetahui rekam jejaknya?

Seenaknya saja Prabowo mengatakan umumkan saja daftar calegnya, kalau rakyat tidak menginginkannya, maka rakyat tidak akan memilih? Lha, mana bisa begitu Pak Wowo! Itu namanya memang sampenyan tidak peduli dengan rakyat! Kok, sampeyan tidak memperhitungkan rekam jejak sih?

He..he..maaf jangan tersinggung yah Pak Wowo, tetapi inilah yang menjadi sebuah pembuktian bahwa Jokowi telah memberikan dirinya sebagai contoh. Jokowi yang tidak punya beban masa lalu maka akan melangkah ringan. Otomatis juga Pakde akan mencari orang-orang baik untuk berada disekitarnya, orang-orang meneladaninya sebagai contoh untuk jujur.

Beda sekali dengan anda Pak Wowo, yang memiliki masa lalu atau rekam jejak “hitam”. Sehingga baginya hal-hal seperti ini tidak penting. Padahal itu sangat penting, karena akan mempengaruhi cara kita menilai!

"Yang jelas, kalau kasus itu sudah melalui proses, dia sudah dihukum, kalau hukum mengizinkan dan rakyat menghendaki dia, karena dia memiliki kelebihan-kelebihan lain, mungkin korupsinya ngga seberapa...," kata Prabowo. Kalau curi ayam, benar itu salah. Tapi kalau merugikan rakyat triliunan, itu yang harus kita habiskan di Indonesia ini," tambah dia.

Wkwkwk….anda mabok Pak Wowo? Nah loh, apa maksud dari korupsi ngga seberapa? Ribet banget kalau nanti mesti bikin definisi nggak seberapanya itu pak!

Menurut penulis yah, korupsi mau kecil mau besar, tetap saja judulnya korupsi! Lagi pula, bukannya Prabowo-Sandi katanya anti korupsi? Pertanyaannya korupsi yang kubu anda maksudkan itu yang besar atau kecil? Kalau korupsi di kubu Prabowo-Sandi sudah dikotakan dari besar kecilnya, apakah tidak mungkin nantinya anda juga akan mengkotakan hukum menurut kastanya? Hukum menurut kaya-miskin, si kuat dan si lemah, rakyat dan pejabat?

Benar juga kata Pakde, dirinya tidak ada beban masa lalu, sehingga dapat melihat dan menilai dengan lebih jernih. Jokowi bukan peramal, tetapi sebagai orang yang bersih maka dia akan mencari orang-orang bersih lainnya untuk berjalan bersama, bekerja bersama. Orang-orang yang memiliki visi-misi sama, yaitu bekerja untuk Indonesia. Jadi kesimpulan akhirnya bagi Jokowi, korupsi tidak kenal “nggak seberapa”, dan untuk setiap pelanggaran biarlah hukum yang berbicara. Tetapi, untuk Indonesia biarlah Jokowi-Ma’ruf pasangan nomor urut 01!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.