Polah Tingkah Fadli Zon Yang Naif


Menanggapi Puisi Naif Fadli Zon sang penebar kekacauan, yang sebelumnya menulis puisi berjudul 'Doa yang Ditukar' pada Minggu (3/2). Dalam puisinya, Wakil Ketua DPR yang songong itu menyindir soal agama yang diobral hingga penguasa tengik.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy langsung merespons puisi naif itu lewat akun media sosial Twitter miliknya, Rabu (5/2). Pria yang akrab disapa Romi itu menyikapi puisi berjudul 'Doa yang Ditukar' oleh lawan politik.

Romi menyindir lawan politiknya sebagai pihak yang berteriak bela ulama, belakangan justru malah merendahkan ulama. Dia pun menyindir lawan agar tidak membawa-bawa nama Tuhan sementara syariat Islam yakni shalat lima waktu dan puasa Ramadan ditinggalkan.

"Hentikan semua narasi, seolah kau paling suci. Karena pemimpin dalam Islam sudah jelas ukurannya, bukan penghina ulama dan menakut-takuti rakyatnya" demikian kata Romi.

Lalu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga ikut berkomentar, Ia langsung menyapa Fadli lewat akun Twitter-nya. Lukman mempertanyakan sosok 'Kau' yang dimaksud Fadli dalam puisi ciptaannya itu.

Fadli pun merespons pertanyaan Lukman itu lewat akun twitternya kemarin. Dia menyatakan bahwa yang ia maksud dengan kata ganti 'Kau' bukanlah Kiai Maimoen Zubaer (Mbah Moen), melainkan 'penguasa dan makelar doa'.

Tak hanya Romi dan Lukman Hakim, Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid juga menyatakan bahwa, banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) yang tak terima dengan puisi 'Doa yang Ditukar' yang dibuat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.

Sontak Warga Nahdliyin mencibir Fadlil dan menganggap Fadli telah menghina Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kiai Maimoen Zubaer alias Mbah Moen.

"Banyak banget yang enggak terima warga NU, ulamanya dihina seperti itu," kata Yenny saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/2).

Yenny menyatakan ucapan Fadli yang ditulis di twitter pribadinya itu akan menjadi blunder bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ia menilai bila Fadli mendukung Prabowo seharusnya jangan menghina ulama NU.

"Harusnya kalau bela pak Prabowo jangan menghina ulama dong, apalagi menghina ulama NU," ujarnya.

Menurut Yenny, doa yang disampaikan Mba Moen beberapa waktu lalu saat acara di Pondok Pesantren Al Anwar, ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Memang, saat itu Mbah Moen salah menyebut nama. Tetapi yang dimaksud Mab Moen adalah Jokowi yang duduk di sampinya.

"Kalau melihat dari struktur kalimat beliau, beliau itu memaksudkan orang yang disebelahnya, orang yang disebelahnya siapa? Pak Jokowi jelas," tuturnya.

Yenny tak mempermasalahkan kesalahan mengucapkan nama oleh Mbah Moen dimanfaatkan oleh kubu Prabowo-Sandi demi kepentingan pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Namun, bagi Yenny ketika memanfaatkan kesalahan tersebut jangan menyalahi etika terhadap ulama. Apalagi Ulama seperti Mbah Moen tokoh kharismatik dan panutan umat muslim dan orang banyak.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani menilai puisi berjudul 'Doa yang Ditukar' yang dibuat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon merugikan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Puisi Fadli Zon tersebut membuat warga Nahdlatul Ulama (NU) yang disebut Nahdliyin menjauh dari pasangan Prabowo-Sandi dan lebih menguntungkan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Kerugian itu karena puisi Fadli Zon bertentangan dengan kultur dan kekhasan NU. Karena Nahdliyin selalu menghormati kiai atau ulamanya meskipun memiliki pandangan dan sikap yang berbeda. Karenanya puisi Fadli akan berbalik dan membuat rugi Prabowo-Sandi.

"NU punya kultur dan kekhasan sendiri. Kultur NU yaitu menghormati ulama atau kiainya, meskipun berbeda dengan kiai atau ulama itu. Kemudian ada suatu ekspresi, baik lisan atau tulisan, yang menciderai rasa hormat kepada ulama, maka itu akan jadi arus balik," tegas Arsul

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.