Tuan Takur



Dalam debat pilpres 2019 kedua kemarin malam. saat Jokowi memaparkan performa agraria, di mana 2 tahun ini Jokowi sudah melakukan hak ulayat (kewenangan, yang menurut hukum adat dimiliki oleh masyarakat hukum adat atas wilayah tertentu di lingkungan warganya. Kewenangan ini memperbolehkan masyarakat untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidupnya) untuk petani dan nelayan.

Jokowi juga telah membagikan konsesi sebesar 2,6 juta hektar dari 12,7 juta hektar yang sudah disiapkan. Pemerintah juga mendampingi mereka agar tanah yang sudah diberikan tersebut menjadi produktif. Ada yang ditanami kopi, buah-buahan, jagung dan masih banyak lagi.

Jokowi juga sudah membagikan 5 juta sertifikat kepada rakyat di bawah. Di tahun 2018 juga sudah dibagikan 7 juta sertifikat agar mereka punya hak hukum yang bisa digunakan untuk agunan permodalan ke bank, sehingga rakyat kecil bisa memiliki sisi akses ke sektor keuangan.

Program yang bagus dan pro rakyat kecil semacam ini justru disalahkan oleh Prabowo. Padahal saat itu, jauh di dalam hati Prabowo, ada sesuatu yang sedang disembunyikannya sekian lama. Bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun tertutup rapat tak ada yang tahu.

Prabowo dengan rahasia masa lalunya justru menyerang Jokowi dengan pandangan strategis yang menurutnya benar padahal ngaco. Prabowo tak sadar bahwa posisi dirinya sedang diujung tanduk akibat kelakuannya sendiri.

Dengan penuh percaya diri Prabowo mengatakan bahwa yang dilakukan Jokowi tadi hanya menarik dan populer untuk satu sampai dua generasi saja. Sementara tanah tidak akan bertambah, sedangkan jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Tiap tahun 3,5 juta, jika bangga bagi 12-20 juta, nanti tidak ada lahan lagi untuk dibagi.

Dengan keadaan ini Prabowo jadi mengkhawatirkan nasib anak cucu sebagai generasi penerus bangsa. Prabowo lalu menawarkan strategi UUD 45 pasal 33 tentang bumi dan air dan kekayaan alam lainnya dikuasai negara.

Sampai di titik ini Prabowo memang terlihat sangat berambisi ingin menjatuhkan Jokowi dengan pernyataannya yang sok berpihak pada rakyat. Saking bernapsunya menekuk Jokowi, Prabowo jadi lupa dengan rahasia yang sedang disimpannya. Dengan tenang Jokowi menanggapi serangan  Prabowo tadi sambil mempersiapkan rudal balasan.

“Rakyat Indonesia yang saya cintai, pembagian yang tadi sudah saya sampaikan 2,6 juta itu memang agar produktif. Kita tidak memberikan kepada yang gede-gede. Kita tahu Bapak (Prabowo) punya lahan luas di Kalimantan Timur sebesar 220 hektar, juga di Aceh Tengah 120 ribu hektar. Bahwa pembagian itu tidak dilakukan di pemerintahan saya,” kata Jokowi.

Prabowo terlihat menelan ludah. Terbongkar sudah kedok Prabowo yang sejak semula sok-sokan berpihak pada rakyat, tapi ternyata dirinya justru jadi tuan tanah ribuan hektar yang diperoleh Prabowo dari mana lagi kalau bukan dari jaman mertuanya berkuasa. Aroma KKN tercium jelas di bagian ini.

Pasal 33 versi Prabowo memang berbunyi tentang bumi dan air dan kekayaan alam lainnya dikuasai pribadi. Dan tepatnya, Prabowo sok-sokan berpihak pada rakyat. Bagian paling tragis justru dipertontonkan Prabowo saat diberi kesempatan oleh panelis untuk memberikana kalimat pamungkas di penghujung acara.

“Sahabat-sahabatku dimanapun kau berada, mala mini kita sudah debat dan diskusi hal penting. Kita melihat itikad baik dan bagaimanapun Pak Jokowi punya hasil yang dicapai. Hanya Prabowo dan Sandiaga Uno, kami punya falsafah dan strategi yang lain. Kami berpegang pada falsafah keadilan yang hasilkan kemakmuran. Kami berpandangan pemerintah harus hadir dengan rinci, teliti, tegas, aktif untuk perbaiki ketimpangan dalam kekayaan. Kita harus menjaga kekayaan supaya tidak lari ke luar negeri. Alat kita adalah pasal 33 UUD 1945, itu saya kira yang ingin kami tegaskan. Saya juga minta izin, tadi disinggung tanah yang ratusan ribu yang saya kuasai, itu benar, itu adalah HGU, itu milik negara. Setiap saat negara bisa ambil. Untuk negara saya rela, daripada jatuh ke negara asing, lebih baik saya kelola, karena saya nasionalis dan patriot.”

Banyak yang mau muntah mendengar pernyataan Prabowo yang seperti itu. Falsafah keadilan yang hasilkan kemakmuran yang bagaimana yang dimaksud Prabowo?

Sementara dia sendiri sudah mencontohkan ketidakadilan berupa praktek sarat muatan KKN dalam kepemilikan tanah 340 ribu hektar itu. Sekalipun status tanah itu HGU, yang jelas Prabowolah yang mengelola dan mendapatkan keuntungan dari tanah ribuan hektar itu.

Suatu keadaan yang bertolak belakang dengan tindakan Jokowi yang justru membagikan sertifikat tanah bagi rakyat kecil. Di sinilah terlihat dengan jelas kelicikan dan kemunafikan Prabowo. Ketimpangan dalam kekayaan yang katanya hendak diperbaiki Prabowo justru dialah penyebab ketimpangan kekayaan tersebut terjadi di Indonesia.

Rakyat kecil dapat sertifikat tanah seiprit justru Prabowo nyinyirin dengan alasan sok perhatiannya tadi. Sementara tanah yang beribu-ribu hektar justru minta diikhlaskan dikelola Prabowo dengan alasan Prabowo berjiwa nasionalis dan patriot.

Adilkah ini pada rakyat Indonesia lainnya yang juga berjiwa nasionalis dan patriot…??!!.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.