Jangan Ganggu Ke-kafiran Prabowo


Kata kafir sebenarnya memiliki banyak pengertian, pada masing-masing agama mempunyai definisi yang berbeda tentang kata KAFIR.

Dalam Islam sebutan kafir diberikan kepada siapa saja yang mengingkari atau tidak percaya kepada kerasulan nabi Muhammad SAW, atau dengan kata lain tidak percaya bahwa agama yang diajarkan olehnya berasal dari Allah SWT.

Namun kafir menurut paham Yahudi adalah bangsa-bangsa di luar Israel. Bangsa Israel atau yang lazim disebut sebagai bangsa Yahudi menganggap dirinya GOYIM (seperti kebanyakan bangsa-bangsa yang lain). Mereka menganggap bangsa Yahudi, yaitu bangsa pilihan Allah. Oleh karena itu, bangsa-bangsa di luar bangsa Israel disebut dengan GOYIM atau kafir.

Nahdlatul Ulama (NU) menyarankan kata kafir sebaiknya diganti dengan istilah muwathinun atau warga negara. Karena, selama ini, kata kafir tak hanya kerap disematkan kepada non muslim, tapi juga kepada mereka yang beragama Islam yang punya pemahaman berbeda.

Menurut Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Abdul Muqsith Ghozali, alasan utama seruan kata kafir perlu diganti, karena punya konotasi kasar.

"Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim," ujar Muqsith, (28/2).

Kesepakatan menggunakan muwathinun, diambil sebagai jalan tengah, karena setiap pemeluk agama punya status yang sama di negeri ini. Muqsith menyebut, tak sedikit kelompok yang mempersoalkan status agama seseorang, meski pun ia sama-sama WNI. Akibatnya, terjadi diskriminasi, bahkan berujung pada persekusi.

"Kelompok tersebut memberikan atribusi teologis yang diskriminatif kepada sekelompok warga negara lain. Dengan begitu [menggunakan istilah muwathinun], maka status mereka setara dengan warga negara yang lain," ucapnya.

Bukti real pelabelan kafir yang berujung jadi masalah adalah kasus persekusi terhadap jemaat Ahmadiyah di Bogor, pembakaran klenteng di Tanjung Balai, pemotongan nisan salib di Yogyakarta, hingga penolakan menyalatkan jenazah di DKI Jakarta. Semua kasus persekusi itu, dilatarbelakangi oleh kebencian terhadap si 'kafir'.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Gomar Gultom sepakat dengan wacana kata kafir dihapus. Menurutnya, setiap warga negara memang harus mendapatkan hak yang sama tanpa melihat agama apa yang mereka anut.

"Sistem perundang-undangan kita tidak mengenal soal banyak sedikitnya umat. Nomenklatur kita adalah warga negara," ujarnya (1/3).

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Sunanto alias Cak Nanto juga sepakat dengan NU yang melarang perilaku mengkafirkan orang lain karena beda keyakinan.

"Ini kan urusan kultur dan nilai. Semakin dibirokrasikan, [kelompok yang gemar mengkafirkan kelompok lain] akan semakin mengeras, nanti dianggap pertarungan," ujar Cak Nanto, (1/3).

Namun ada yang complain ternyata. Sekjen FUI, Muhammad Al Khaththath mengatakan, rekomendasi NU melarang perilaku mengkafir-kafirkan orang tersebut adalah hoak.

"Kok tiba-tiba ada ormas Islam yang mengatakan tidak boleh mengatakan kafir, sedangkan Allah mengatakan kafir. Berarti ini ormas Islam telah membuat hoak yang baru," kata Al Khaththath, tidak setuju dengan wacana NU tersebut.

Logikanya ketika Al Khaththath menolak kata kafir dihapus, itu artinya ia setuju keluarga besar Prabowo disebut kafir.

Kok bisa? Karena di keluarga besar Prabowo, hanya Prabowo dan bapaknya yang muslim. Lainnya non muslim. Ibunda Prabowo, Dora Marie Sigar, penganut kristen yang taat.

Dari pernikahannya dengan Sumitro, Dora mempunyai 4 orang anak. Dua perempuan (Bianti Djiwandono dan Mariani le Maistre), dan dua laki-laki (Prabowo Subianto dan dan Hashim S. Djojohadikusumo). Semua saudara Prabowo beragama Kristen. Kakaknya, Bianti Djiwandono beragama Kristen Katolik.

"Istri saya Kristen, anggota GKI sudah 46 tahun. Ibu kami, saya, Ibu Prabowo dari suku Minahasa. Ibu kami lahir Kristen Protestan. Banyak yang tak tahu kalau keluarga kami banyak Kristen, termasuk (jadi) pendeta," ujar adek Prabowo, Hashim.

Prabowo juga lahir dan dewasa dalam lingkungan keluarga yang beragama Kristen. Ia baru memeluk Islam ketika menikah dengan Titiek Soeharto pada Mei 1983, dan banyak yang mengatakan bahwa Islam Prabowo hanya untuk mendapatkan restu dari sang mertua Soeharto, Presiden RI kala itu.

Artinya, karena mayoritas kelurga Prabowo non muslim, Al Khaththath setuju kalau keluarga capres no 02 itu tersebut disebut kafir. Apakah anda juga setuju..?

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.