Prabowo Sang Tuan Tanah


Merujuk pada data yang dimiliki oleh Sosiolog George Junus Aditjondro yang dirilis pada 21 Mei 2014, total tanah yang dimiliki Ketua Umum Partai Gerindra itu mencapai 1.361.000 hektar.

Jutaan hektar lahan Prabowo itu kini dibangun menjadi 8 perusahaan berbeda di empat wilayah berbeda. Tanah-tanah itu terdapat di Aceh, Sumatera Barat, Jambi dan Kalimantan Timur.

Di Aceh sendiri terdapat lahan seluas 96 ribu hektar lahan yang dibangun menjadi PT Kertas Kraft Aceh yang bergerak di bidang kayu pinus. Untuk di Sumatera Barat dan Jambi, Prabowo memiliki lahan sawit seluas 30 ribu hektar yang kemudian dibangun PT Tidar Kerinci Agung.

Untuk di Kalimantan Timur, total ada 1,235 juta hektar tanah yang dimiliki oleh Prabowo. Di sana pun telah berdiri 6 perusahaan milik Prabowo, diantaranya PT Tanjung Redep dengan lahan seluas 290 hektar, Kiani Grup dengan lahan seluas 350 ribu hektar, PT Kartika Utama dengan lahan seluas 260 hektar, PT Ikani Lestari seluas 260 ribu hektar, Nusantara Energy seluas 60 ribu hektar dan PT Belantara Pustaka seluas 15 ribu hektar.

Jutaan lahan itu pun terdiri dari beragam jenis. Ada lahan yang peruntukannya sebagai hutan, batubara dan juga perkebunan.

Dalam debat pilpres, Jokowi hanya menyinggung kepemilikan tanah Prabowo di Aceh dan Kalimantan Timur saja. Tak hanya kedua wilayah itu, ternyata Prabowo memiliki lahan-lahan lainnya.

“Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan luas di Kaltim sebesar 220 ribu hektare dan di Aceh Tengah 120 ribu hektare. Saya hanya ingin sampaikan, pembagian seperti ini tidak dilakukan di masa pemerintahan saya,” ujar Jokowi dalam debat pilpres, pada Minggu (17/2/2019) malam.

Menanggapi hal itu, Prabowo menyebut lebih baik lahan itu ia miliki daripada jatuh ke tangan asing. Ia pun bersedia mengembalikan lahan itu lantaran hanya berstatus Hak Guna Usaha.

“Itu benar, itu adalah HGU, milik negara. Kapan pun, setiap saat, bisa diambil kembali. Saya siap kembalikan daripada jatuh ke orang asing, lebih baik saya yang mengelola, karena saya patriot," kata Prabowo.

ia mengakui menguasai tana seluas 220.000 hektar dan di Kalimantan Timur dan 120.000 hektar di Aceh Tengah. Menurutnya dia rela menyerahkan tanah itu buat kepentingan negara, namun merasa berhak mengelola ketimbang dikuasai pihak asing.

"Setiap saat negara bisa ambil kembali tanah tersebut,’’ kata dia.

"Untuk negara saya rela kembalikan. Tapi daripada lari ke orang asing lebih baik saya kelola. Saya patriortis," imbuhnya.

Sontak pernyataan tersebut memicu reaksi negatif warganet. Pengamat terorisme Sidney Jones misalnya menilai gaya Prabowo mengakhiri debatnya tergolong aneh.

"Apakah itu pesan terpenting buat Indonesia?" tulisnya.

Selain itu, seorang netizen misalnya menggoda pendiri Partai Gerindra itu untuk membagi-bagikan tanahnya sesuai program pemerintah. Ironisnya tidak banyak yang mengritik nada xenofobia dalam ucapan Prabowo.

Dalam pilpres 2019, isu dukungan asing menjadi bola panas yang dilemparkan kedua kubu. Tim BPN Prabowo misalnya berulangkali menyebut paket kebijakan ekonomi Jokowi dan pembelian saham Freeport sebagai kebijakan pro asing.

Ketika menanggapi klaim Prabowo ihwal seorang nasionalis sebagai investor yang lebih baik. jurnalis senior Dandhy Laksono, bergurau bahwa bagaimanapun pemodal asing akan tetap bisa menguasai perekonomian lewat cara lain.

Politisi PDI-Perjuangan, Zuhairi Misrawi melalui akun Twitternya menulis kesannya tentang kesimpulan debat capres kali ini. Jika "Jokowi menguasai masalah, dan Prabowo menguasai tanah."

Bagaimana menurut anda..? bayangkan jika Prabowo jadi Presiden RI, tanah di Papua masih luas brothers… mungkinkah tanah Papua menjadi incaran Prabowo selanjutnya..? dan jawabannya adalah ‘Sangat mungkin..!’.

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.