Kesombongan Prabowo Menghancurkan Dirinya Sendiri

Jika dilihat dengan kacamata militer, Prabowo terfokus dan terobsesi terhadap going to war atau berperang. Dirinya menganggap, TNI kita lemah, lemah dari segi apapun. Debat dengan tema pertahanan keamanan dan hubungan internasional, membuat dirinya lupa siapa dirinya sekarang ini. Apalagi dengan bangga mengatakan ‘Saya lebih TNI dari pada TNI’.

Namun kenyataannya, sifat asli Prabowo malah jadi terbongkar. Yakni sangat emosional, tidak bisa mengontrol emosi, dan tidak suka pada diplomasi. Tampak sekali Prabowo paranoid terhadap diplomasi dan perkembangan zaman.

Di media sosial sudah beredar berbagai tulisan tentang obsesi Prabowo terhadap perang berdasarkan performanya saat debat beberapa hari yang lalu. Bahkan ada yang sampai menyamakan Prabowo dengan klan diktator Korea Utara, yang sama-sama terobsesi dengan perang. Yang pamer angkatan bersenjata dan senjata-senjatanya, namun membiarkan rakyatnya kurang gizi.

Sama halnya dengan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, yang diwakili oleh Johnny G Plate, juga berkomentar senada. Prabowo seperti mau perang, sangat militeristik minded. Zaman telah berubah, karena perang dagang yang akan kita hadapi nanti, bukan perang seperti jaman dulu.

"Pak Prabowo ngomongnya kaya mau perang, sangat militeristik minded, perlu dipertanyakan. Ada apa itu? Ada sponsor jual beli senjata di situ kah? Nah ini harus hati-hati kita," kata Johnny di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Maret 2019.

Biasanya orang-orang yang berpandangan sama akan berkelompok. Sama saja dengan orang-orang waras yang melihat pemilu sebagai pesta demokrasi seperti kita-kita ini, berdiri di sisi yang sama. Yakni mendukung orang baik yang sama-sama melihat pemilu sebagai sebuah kewajaran di dalam negara demokrasi.

Beda dengan para pendukung maupun pentolan-pentolan di kubu Prabowo yang melihat pemilu sebagai jihad atau perang. Yang tidak segan mengkafirkan orang lain di luar kubu mereka, walaupun yang dikafirkan itu sama muslimnya.

Pantes saja mereka yang mendukung Prabowo adalah orang-orang yang tergolong radikal, hingga mantan napi pembunuh. Lihat saja jajaran ormas yang ada di belakang Prabowo. Ada HTI, FPI, dan FUI, yang sering mengadakan aksi ganti presiden, dan baru saja menggelar aksi di depan kantor KPU.

Belum termasuk mereka yang menyebut diri mereka ustaz dengan ceramah yang jauh dari esensi bahwa Islam itu agama yang rahmatan lil alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam.

Yang ceramahnya isinya malah provokasi dan marah-marah tidak karuan. Termasuk yang tersangkut urusan hukum karena melakukan penganiayaan terhadap anak di bawah umur. Semua itu hanya ada di kubu mantan jenderal pelanggar HAM terkait penculikan para aktivis, siapa lagi kalau bukan Prabowo.

Padahal seiring kemajuan zaman di dunia ini, negara-negara modern makin menjauhkan diri dari perang. Siapa sih yang sekarang berperang? Di Afrika, yang dulu sering terjadi perang antar-suku, sudah jarang terjadi. Tinggal di Timur Tengah. Itu pun tinggal sisa-sisanya saja, karena ISIS pun sudah dinyatakan kalah.

Yang ada sekarang adalah Perang Dagang. Perang ini butuh kecerdasan, daya kreativitas dan inovasi, serta lobi-lobi aktif. Kita berperang dengan otak. Namun, yang patut diwaspadai adalah justru konflik di dalam negeri. Terutama berbagai pihak yang hendak mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah. Siapa orang-orangnya? Balik lagi ke para pendukung Prabowo!

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.